Aku terlahir dengan nama Bali.. memang karena keluargaku asli bali. Hanya saja, sejak aku dalam kandungan, orang tuaku merantau ke luar Bali.. Jadilah aku tumbuh bukan di lingkungan adat Bali. Hingga SMP.. jujur saja, aku kurang mengerti filosofi dan makna dari ajaran agamaku.. Hindu. Ketika ditanya oleh kawan2ku, “wayan, kok orang hindu klo sembahyang nyembah patung sih ??”.. dan aku hanya bisa meringis.. dan ketika ada lagikawanku yang bertanya “sapi haram ya ? kok babi gak haram sih ?”. Sungguh Tuhan.. bisa2nya mereka berkata begitu.. tanpa rasa hormat dan tenggang rasa terhadap umat agama lain. Namun untungnya, satu hal yang akuĀ tau saat itu adalah, agama Hindu tidak pernah mencerca agama lain, agama Hindu menghormati agama lain dengan segala kekurang-ajaran mereka (ini bahasa saya). … Sekarang aku adalah seorang mahasiswa ITB, dan dengan pemikiran yang lebih kritis dan logis tentunya.. Ingin aku kembali ke masa2 itu, masa2 aku kecil dimana aku bingung menjawab pertanyaan2 mereka… Orang Hindu bukan menyembah patung, patung yang ada di pura2 hanyalah sebagai ‘sarana’ bagi umat Hindu agar khidmat dalam sembahyang, karena bagaimana mungkin seorang umat dapat dengan khidmat beribadah jika dihadapannya kosong melompong, yang ada ia malah ngelantur. Toh Islam juga sembahyang menghadap ke barat karena bagi Indonesia, ka’bah itu ada di barat kan. Bercerminlah sebelum menuding dan menghina orang lain, jangan hanya melihat sisi negatifnya. Yang kedua, mengenai sapi, aku rasa Hindu menyarankan untuk tidak memakan daging sapa ‘bukan karena sapi itu haram’ melainkan Hindu menghormati Sapi karena air susunya yang telah memberi gizi pada umat manusia, ibarat seorang ibu yang memberikan susu kepada anaknya dengan penuh kasih. Bayangkan kalau tidak ada sapi, bisa saja minum susu kuda, tapi apakah itu layak. Pikir sejenak…
Hidup sebagai kaum minoritas di perantauan memang susah. Banyak orang menganggap bahwa yang banyak dipilih orang adalah yang benar, padahal belum tentu.. Karena memang tidak banyak orang yang bisa melihat kebenaran sejati. It comes from deep inside your heart.. bukan hanya melalui sebuah kitab yang oleh manusia kebanyakan diterjemahkan secara mentah-mentah sehingga salah tafsir, kebenaran sejati datang dari kesadaran yang paling dalam.. tanpa ego, tanpa berpihak..